ciko.or.id
is Freelance Web Developer / Web Programmer based in Jakarta Indonesia - Don't forget to check
my portfolio.




08122311721
ciko@ciko.or.id
fcparera@yahoo.com
Y!M : fcparera 



[ list ]

Laporan Perjalanan: Pertemuan Para Geek & Hacker Wireless Network - Denmark dan Communication Right Workshop - Manila
4 November 2004
sumber: Onno W Purbo, milis jasakom

Laporan Perjalanan di Djursland, Denmark:
Pertemuan Para Geek & Hacker Wireless Network di Djursland Denmark September 2004


Onno W. Purbo
onno@indo.net.id
Rakyat Indonesia biasa

Saya kebetulan di undang oleh rekan saya, Sebastian Buettrich & Tomas Krag dari wire.less.dk untuk menghadiri, berpartisipasi & memberikan workshop di Freifunk Free Network convention yang di adakan di Djursland Denmark yang berlokasi sekitar empat (4) jam perjalanan darat dari Copenhagen. Semua yang kami lakukan dapat di ambil di http://www.thewirelessroadshow.org dan masuk ke link Wireless for Development di dalamnya.

Berangkat menggunakan Thai Airway selama total empat belas (14) jam terbang transit melalui Singapore & Bangkok akhirnya saya tiba di Copenhagen tanggal 2 September di pagi hari. Setelah salah mengambil kereta api, dan kesasar hampir setengah pulau, di lanjutkan salah mengambil jalur bus, akhirnya Sebastian Buettrich berhasil menemukan saya dan kami berjalan kaki ke markas wire.less.dk.

Sore hari tanggal 2 September 2004, kami berangkat ke tempat acara di Djursland, Denmark. Lokasi Djursland di wilayah yang tidak terlalu produktif di Denmark, penghasilan utama dari ladang dan pertanian. Konsekuensinya penduduk tidak terlalu kaya. Banyak penduduk yang pandai meninggalkan Djursland untuk bekerja di kota-kota yang dapat memberikan penghasilan lebih baik.

Dengan kondisi yang sangat miskin ini, segelintir orang di motori oleh Barjke mereka membangun jaringan Internet wireless menggunakan teknologi yang tidak berbeda jauh dengan apa yang kita gunakan di Indonesia. Kaleng susu menjadi andalan utama antenna di rumah-rumah. Mereka bahkan memproduksi secara serius dengan ukuran yang benar.

Secara umum acara konvensi wireless di Djursland lebih tepat di katakan tempat pertemuan para geek, para hacker wireless. Jangan kaget kalau pakai kami rata-rata kumal, rambut gondong, celana jeans, baju kaos. Tapi semua rata-rata membawa laptop-nya masing-masing, tersambung ke jaringan wireless dengan Access Point yang bertebaran di mana-mana pada frekuensi 2.4GHz - tentunya tanpa perlu ijin frekuensi dari POSTEL. Untuk mengirit biaya, sebagian peserta terutama yang datang dari Berlin Jerman Barat yang merupakan salah satu kontingen yang paling besar, mereka membuat tenda di lapangan untuk tidur mereka. Berbagai foto yang menggambarkan suasana konvensi dapat di ambil di http://www.thewirelessroadshow.org. Saya sangat menyarankan bagi anda untuk melihat-lihat foto-foto selama konvensi, untuk melihat bagaimana ceria-nya para geek & hacker wireless network yang bekerja sama membangun jaringan, dan bertukar ilmu & pengalaman.

Saya berkesempatan berkontribusi di beberapa sesi, seperti sesi bagi pemula (beginner). Di sesi ini saya bersama Carlo dari Italia memberikan gambaran kepada para pemula tentang bagaimana kerja dari wireless network.

Yang agak mengagetkan bagi saya pribadi, Sebastian meminta saya untuk memberikan ceramah di muka semua peserta bersama Dave yang menamakan dirinya Cursor Cowboy dari Amerika Serikat. Berbeda dengan Dave yang memang banyak pengalaman praktisnya, tapi tidak banyak melakukan community development & empowerment.

Apa yang saya jelaskan pada kesempatan tersebut berjudul "It's NOT Illegal, It's just NOT legal (Richard Fuchs, IDRC)". Saya menjelaskan bagaimana perjuangan bangsa Indonesia untuk dapat membangun infrastruktur Internet-nya dibawah represi pemerintah dan aparat yang tidak berpihak pada rakyat, bahkan di sweeping dan di ambil peralatannya. Terus terang, harus di akui memang rakyat menggunakan frekuensi tanpa ijin. Bukan karena rakyat tidak tahu aturan, tapi rakyat invest peralatan wireless internet ini karena industri telekomunikasi tidak sanggup memberikan servis broadband murah kepada rakyat.

Proses mendanai diri sendiri tidak tergantung pada bank dunia, ADB, IMF maupun bantuan donor dengan kondisi pemerintah yang tidak memihak pada rakyat banyak membuat kaget & kagum rekan-rekan dari 30 negara yang hadir pada konvesnsi tersebut. Akibatnya, salah satu usulan dalam konvensi Freifunk ini adalah mengadakan wireless workshop di Indonesia tahun 2005 atau 2006 mendatang. Mereka, banyak negara di dunia, sangat tertarik sekali untuk belajar dari perjuangan bangsa Indonesia. Mereka ingin mengetahui resep yang digunakan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaannya di dunia Internet. Mereka ingin teman-teman yang lain di dunia juga merasakan merdeka.

Ada beberapa hal yang menarik untuk di simak dari konvensi wireless network di Djursland, Denmark ini. Beberapa diantara akan di jelaskan berikut ini.

Mesh network yang di motori oleh rekan-rekan Berlin Wireless FreiFunk barangkali merupakan salah satu primadona dalam konvensi ini. Dengan menggunakan mesh network, kita dapat membangun jaringan wireless tanpa memerlukan Access Point yang besar, tower yang tinggi. Jaringan wireless dapat dibangun menggunakan peralatan wireless yang kecil saja, tapi saling tolong menolong, saling relay antara alat untuk membangun jaringan yang besar.

Mode operasi peralatan wireless pada mesh network bekerja pada mode Ad-Hoc artinya tidak menggunakan Access Point sama sekali. Bentuk jaringan bukan star yang terpusat seperti pada Access Point, tapi mesh karena antar node saling tolong menolong untuk merelay paket ke tujuan. Protocol yang memungkinkan jaringan wireless mesh ini beroperasi adalah OLSR, dapat di ambil dari http://www.olsr.org.

Dari informasi di indowli@yahoogroups.com, ternyata di Cempaka Putih, tepatnya di Universitas Yarsi, Jakarta di motori oleh Pak Yadi. Saat ini telah beroperasi jaringan mesh wireless menggunakan mesh.

Yang menarik dan banyak dibicarakan orang selama konvensi adalah inisiatif yang di motori oleh rekan-rekan di Chez untuk membangun & membuat sendiri jaringan komputer di kota mereka menggunakan laser (cahaya) antar gedung. Teknologi ini dinamakan Ronja oleh mereka dan dapat di ambil secara gratis semua teknik-nya melalui Web http://ronja.twibright.com. Kecepatan data sekitar 10Mbps, untuk jarak 1-2 km. Yang menarik di teknologi komunikasi menggunakan laser / optik adalah karena frekuensi-nya berada dalam wilayah ratusan TeraHertz (Thz), sementara POSTEL hanya mengatur frekuensi s/d wilayah 400GHz maka seharusnya & sewajarnya POSTEL tidak mengatur operasi jaringan data yang menggunakan cahaya tersebut.

Bagian yang paling menarik selama konvensi ini adalah pada saat di adakan sesi untuk membuat antenna sendiri. Mungkin ekuivalen dengan installfest kalau di komunitas Open Source & Linux. Setelah di bekali sedikit teori tentang bagaimana kerja antenna, para peserta mulai membuat sendiri antenna-nya. Ada dua (2) jenis antenna yang dibuat pada kesempatan ini, yaitu, antenna kaleng susu (di bimbing oleh Sebastian & Carlo) dan antenna biquad (dibimbing oleh Offline-Horst dari Jerman).

Teknik membuat antenna kaleng di mulai dengan ritual membuka kaleng, dan menghabiskan isi kaleng yang berisi buah-buahan kalengan yang tentunya dinikmati oleh semua peserta. Dengan mengukur diameter kaleng, maka mulailah perhitungan dilakukan untuk menentukan di titik mana lubang harus di buat untuk menginjeksi sinyal radio. Kaleng mulai di lubangi satu per satu bergantian di titik yang telah di tentukan.

Setelah kaleng di lubangi, selanjutnya mereka memotong kabel yang agak rigid untuk di solderkan ke konektor tipe N. Potongan kecil kabel yang panjangnya sekitar 3 cm ini sebetulnya berfungsi sebagai antenna < panjang gelombang. Bagian yang cukup seru adalah pada saat mengukur berapa panjang kabel rigid yang harus di sisakan. Karena kalau terlalu panjang, atau terlalu pendek maka antenna tidak match pada frekuensi 2.4GHz sehingga performance antenna menjadi tidak baik.

Selesai membuat antenna < panjang gelombang, kita harus memasukan konektor tipe N ke kaleng dan membor mebuat lubang untuk mur / baut yang akan mengencangkan antenna < panjang gelombang pada tempatnya.

Selesai sudah proses pembuatan antenna kaleng. Selanjutnya di ukur menggunakan SWR Meter dengan injeksi sinyal dari sumber sinyal video yang bekerja pada frekuensi 2.4GHz. SWR meter tersebut buatan sendiri yang disain-nya dapat di cari di www.google.com.

Proses pengukuran selanjutnya adalah mengukur kekuatan / gain antenna, hal ini dilakukan dengan cara membandingkan kekuatan sinyal yang diterima oleh antenna yang kita buat dengan antenna referensi yang gain-nya di ketahui. Beberapa rekan seperti Carlo (dari Italia) dan Rai?da (dari Jordania) secara iseng, membuat antenna dari kotak minuman dan di ukur gain-nya ternyata tidak berbeda jauh dengan antenna kaleng.

Selain Wireless Internet, para geek & hacker juga melakukan eksplorasi dan tukar pengalaman tentang telepon Internet. Saya pada akhirnya memimpin workshop VoIP bagi para pemula di konvensi freifunk. Pada dasarnya teknologi VoIP Merdeka yang berbasis protokol H.323 saya terangkan, semua materi seperti biasa dapat di ambil dari http://www.apjii.or.id/onno/.

Pada kesempatan workshop VoIP untuk pemula, saya memang sengaja membawa peralatan Internet Telephony Gateway (ITG) yang biasa saya pakai di rumah untuk menghubungkan VoIP Merdeka ke PABX yang saya operasikan di rumah, dan tentu saja dapat terhubung ke Telkom maupun HP melalui Telkom. Para peserta cukup banyak yang terkagum-kagum, karena selama ini mereka umumnya hanya sebagai pengguna VoIP, bukan penyelenggara VoIP yang mengoperasikan gateway antara VoIP dengan telepon PSTN (milik Telkom).

Di pimpin oleh Klaus Peter dari Berlin, para hacker yang lebih senior termasuk saya menjadi peserta di dalamnya, kami mulai belajar mengoperasikan Asterisk. Asterisk pada dasarnya sentral telepon VoIP yang berbasis utama SIP (Session Initiation Protocol). Karena SIP yang digunakan sebagai basis, maka operasi VoIP lebih enteng daripada VoIP yang menggunakan H.323 seperti VoIP Merdeka. Di Indonesia pengoperasian jaringan SIP di lakukan oleh Anton Raharja (anton@ngoprek.org) dan dapat di registrasi dari http://www.voiprakyat.net.

Software Asterisk dapat diambil dari http://www.asterisk.org, sedang berbagai manual / dokumentasi dapat di ambil sebagian dari http://www.asteriskdocs.org. Jika kita mengenal NetMeeting sebagai softphone di Windows untuk H.323 yang digunakan oleh VoIP Merdeka, maka untuk SIP kita mengenal beberapa softphone yang gratis, seperti, xlite (Windows), Sjphone & Kphone (Linux).

Pada dasarnya ada tiga file konfigurasi yang harus di set untuk minimal mengoperasikan sebuah server asterisk. Yaitu file /etc/asterisk/sip.conf untuk mengatur terminal SIP yang tersambung ke kita, /etc/asterisk/extension.conf untuk mengatur numbering plan, routing nomor dll, dan terakhir /etc/asterisk/iax.conf untuk mengatur hubungan antar Asterisk server.

Demikian sepintas gambaran suasana pertemuan para geek & hacker wireless Internet yang datang dari lebih 30 negara di dunia. Merupakan pengalaman menarik karena saya adalah satu-satunya yang datang dari kawasan Asia Tenggara, dan cukup beruntung dapat berkontribusi dalam beberapa sesi dan memimpin workshop dsb.

-----------

Pengalaman Communication Right Workshop
Manila, 3-7 Agustus 2004

OnnoW. Purbo
Rakyat Indonesia biasa saja.

Tanggal 3-7 Agustus 2004 saya terlibat di sebuah workshop tingkat regional tentang hak untuk berkomunikasi. Workshop tersebut di selenggarakan oleh Foundation for Media Alternative (FMA) yang bermarkas di Manila. Di sponsori oleh banyak organisasi seperti Bread for All, RSIS Champaign dll.

Cukup banyak peserta yang hadir dari Thailand, Malaysia, India, Nepal, Korea, Jepang, India, Nepal, Australia, Swiss, Inggris, dan tentunya Phillipine sebagai tuan rumah. Dari Indonesia hadir dari Indonesia adalah rekan Bimbim dari ISAI Jakarta, rekan Imam Prakoso dari Combine Jogjakarta, dan saya sendiri tanpa organisasi apa-apa (maklum lah saya hanya rakyat biasa saja, pensiunan PNS).

Pola workshop cukup standard di mulai dari sebuah keynote speech oleh Roberto dari Phillipina yang merupakan Bapak Internet di Phillipina. Beliau memberikan dasar untuk communication right berdasar pada ketergantungan kita kepada copyright. Berbasis asumsi tersebut di kembangkan konsep rentenir informasi / pengetahuan yang mengambil uang dari penjualan informasi secara on demand. Juga dikembangkan konsep cyberlord bagi orang yg menguasai informasi.

Tentunya asumsi tersebut gampang sekali di patahkan jika kita tidak menganut aliran copyright sebagai pemroduksi informasi itu sendiri. Dengan kata lain, jika kita sebagai pembuat informasi / pengetahuan tidak menganut paham copyright, atau menyebarkan informasi / pengetahuan yg kita miliki secara gratis, maka tidak ada lagi ketergantungan pada rentenir & cyberlord informasi.

Di lanjutkan dengan laporan dari masing-masing negara maupun pandangan dari beberapa ahli yang datang dari Swiss dll. Workshop berlanjut dengan usaha untuk membuat strategi di tingkat regional untuk mengadvokasi masalah communication right. Communication right disini termasuk hak untuk berkomunikasoi, kebebasan pers, kebebasan bersuara, akses ke Internet dll.

Seperti kita ketahui bahwa strategi yang umumnya di anut oleh rekan-rekan advokasi sangat standard. Tidak lain, mencoba menyakinkan regulator bahwa hak untuk berkomunikasi itu harus di penuhi, berusaha mengubah regulasi melalui mekanisme perundangan, berusaha memasukan ke dalam agenda-agenda pembangunan dan politik agar hak berkomunikasi di penuhi. Jika masih juga tidak di penuhi, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan advokasi bahkan jika di perlukan melakukan demonstrasi untuk menuntut hak-nya.

Baru setelah dari sisi undang-undang / regulasi & kebijakan pemerintah memenuhi hak, mulai dilakukan pembangunan / proyek-proyek untuk pemenuhan hak tersebut. Semoga saja proyek & pembangunan yang dilakukan dapat merata.

Tentunya kita tahu semua bahwa mekanisme demikian sangatlah membosankan, memakan waktu lama, makan hati karena di cuek-in oleh penguasa yang merasa lebih pandai dari rakyatnya.  Belum lagi banyaknya KKN pada saat proses pembangunan & pengerjaan proyek karena banyak birokrat merasa berjasa untuk meng-goal-kan keinginan rakyat tersebut dan merasa wajib memperoleh bagian. Proses mark-up, meminta bagian menjadi hal yang lumrah dan di halalkan. Sialnya semua ini menjadi rahasia umum yang biasa dan lumrah, mengerikan memang.

Dalam kesempatan tersebut saya menceritakan apa yang kita kerjakan di industri Internet & IT di Indonesia selama sepuluh (10) tahun terakhir. Dimana kita berhasil membangun & meningkatkan pengguna Internet di Indonesia dari nol menjadi delapan (8) juta pengguna. Bandwidth Internasional yang mencapai Gbps. 3000+ sekolah Indonesia dan 2000+ WARNET berada di Internet.

Semua dilakukan di bawah ancaman & perlakuan represive dari oknum POSTEL & DISHUB yang melakukan pemalakan di lapangan, penyitaan peralatan Wireless Internet di 2.4GHz & 5.8GHz, intimidasi keharusan ijin menteri bahkan untuk WARNET yang paling sederhana sekalipun.

Gilanya sebagian besar pembangunan industri Internet & IT di Indonesia dilakukan secara swadaya masyarakat, menggunakan uang / kocek rakyat sendiri, tanpa dukungan pemerintah, tanpa dukungan Bank Dunia, tanpa ADB, tanpa IMB di tambah beban harus memberikan uang operasional ke oknum POSTEL & DISHUB yang tidak tahu malu. Heran mengapa PAN tidak pernah memecat PNS pemalak itu ya? Karena tidak punya bukti?

Kunci dari keberhasilan pembangunan itu sebetulnya snagat sederhana saja. Semua bukan bertumpu pada kemampuan kita dapat melobby pemerintah untuk membuat program pemberdayaan IT di Indonesia, tapi karena keberhasilan kita untuk memandaikan rakyat Indonesia di bidang IT. Melalui ajakan kepada para mahasiswa untuk menulis artikel, menulis buku, menyebarkan ilmunya kepada masyarakat. Mengadakan berbagai demo, seminar, workshop di berbagai kota di Indonesia dengan harga yang terjangkau bagi mahasiswa dan rakyat banyak. Mengajarkan bagaimana membuat sendiri Internet miurah.

Terus terang, teknik pembedayaan masyarakat dengan cara mengajarkan pengetahuan IT kepada masyarakat dan akhirnya memungkinkan masyarakat untuk dapat membangun sendiri infrastruktur-nya sangat menarik bagi banyak peserta dari semua negara. Mereka yang biasa bermain dengan pola top-down cukup tertegun-tegun melihat kekuatan arus bawah dari pola bottom-up. Proses pemandaian / pemberdayaan masyarakat akhirnya menjadikan komunitas berkembang menjadi besar - hal ini di istilahkan oleh rekan-rekan peserta workshop sebagai "Onno's bubble" atau "Onno's effect".

Tampaknya hanya Indonesia yang berhasil secara nyata menunjukan betapa besarnya kekuatan arus bawah jika kita pandai dalam memainkannya untuk memenuhi hak berkomunikasi rakyat. Gilanya semua dilakukan tanpa perlu bantuan pemerintah, utangan Bank Dunia, utangan IMF, utangan ADB, bahkan dalam kondisi tekanan pemerintah yang sangat represif dan aparat yang korup.

Melihat itu semua rekan dari India akan mengundang saya untuk memberikan workshop di New Delhi ttg. strategi pemberdayaan masyarakat IT bagi kawasan Asia Selatan. Insya Allah akan dilakukan sekitar bulan January 2004. Di samping itu, Karen Banks salah satu aktifis perempuan dari Association for Progressive Communication (APC) mengajak bekerja sama agar dapat dilakukan workshop tentang design, instalasi & konfigurasi WiFi di Indonesia bagi para aktifitas perempuan APC seluruh dunia. Lokasi workshop tepatnya belum di tentukan, pilihan yang ada antara Jakarta, Jogyakarta dan Bali.

Koordinasi sedang dilakukan dengan teman-teman aktifis Internet di Indonesia seperti Michael Sunggiardi, Aie, dll agar workshop WiFi bagi perempuan internasional ini dapat berjalan lancar. Tentunya saya juga sangat ingin mengajak rekan Angly Kusumo yang berupakan salah satu pentolan / jago WiFi perempuan di Indonesia untuk dapat turun dan memberikan workshop bagi perempuan lain di tingkat internasional.

Sekian laporan pandangan mata dan pengalaman saya selama mengikuti workshop communication right 3-7 Agustus 2004 di Manila. Semoga dapat menaikan citra Indonesia di mata internasional.

***








friends | artikel & tutorial | guestbook

 
© 2004-2009 ciko.or.id